Sejarah

KASUS DOULOS:

Pdt. Royandi Hutasoit:

Mengapa Sariman Harus Mati?

JUMAT 17 Desember 1999, pukul 20.45. Kompleks STT Doulos di kawasan Cipayung, Jakarta Timur larut dalam kesepian. Hampir seluruh mahasiswa asyik belajar di kamar masing-masing. Maklum, besok ada ujian. Tiba-tiba sebuah ledakan terdengar. Roma, ketua asrama putra STT Doulos bersama seorang satpam segera lari menuju ke tempat ledakan. Ternyata, ledakan itu berasal dari sebuah bom Molotov yang dilempar dari luar pagar. Bertepatan dengan itu, sekelompok orang bersenjatakan golok, pedang, serta balok kayu dengan wajah garang menyerang masuk diiringi teriakan beraroma gurun pasir Arab.

Roma dan satpam Doulos lari berbalik arah. Melarikan diri! Mahasiswa STT Doulus yang sedang asyik belajar, semula tak mengetahui apa yang sedang terjadi. Ketika melongok ke luar kamar dan melihat segerombolan manusia bersenjata menyerang, mereka mengambil langkah seribu. Lari pontang panting menyelamatkan diri ke arah belakang bangunan STT Doulos. Malangnya, di bagian belakang sudah berkerumun segerombolan manusia lengkap dengan senjata tajam terhunus di tangan. Tak ampun, satu per satu mahasiswa yang mencoba melarikan diri dihantam sejadi-jadinya. Teriakan minta tolong terdengar di mana-mana, memecah keheningan malam. Rupanya, ancaman penyerbuan oleh sekelompok orang yang berasal dari luar kampung Cipayung, yang selama ini didengung-dengungkan, akhirnya menjadi kenyataan. Korban-korban yang terdiri dari mahasiswa atau mahasiswi STT Doulos berjatuhan akibat hantaman balok kayu dan sabetan golok atau pedang. Suasana sangat mencekam.

Sekelompok mahasiswa STT Doulos yang berhasil menerobos dari “serangan maut”, menuju rumah Pdt. Zacharias, seorang dosen merangkap misionaris yang akan dikirim ke luar negeri. Di situ mereka berkumpul bersama meminta perlindungan Tuhan. Dari arah luar terdengar teriakan-teriakan yang meminta agar mereka yang di dalam rumah segera ke luar. Pdt.Zacharias memutuskan untuk bersama-sama keluar dengan segala risikonya. Namun, sebelumnya mereka berdoa bersama, menyerahkan segala-galanya kepada Tuhan. Setiba di luar, mereka dikumpulkan di suatu lapangan dan satu persatu – terutama mahasiswa – disuruh menyangkali iman mereka. Namun, tak seorangpun melakukan hal itu. Akibatnya, pembantaian pun terjadi. Tak seorangpun luput dari penganiayaan. Bahkan. Pdt. Zacharias yang sudah jatuh berlumuran darah masih diberi bonus tebasan pedang. Sariman, (28), pemuda kelahiran Bantul, Jateng, salah seorang mahasiswa terbaik STT Doulos, tewas dengan luka di bagian leher. Belasan lainnya luka parah, dan puluhan luka ringan Akibat penyerangan kelompok orang tak bertanggungjawab, nyaris semua bangunan milik Yayasan Doulos musnah dibakar.

“Mengapa Sariman harus mati?” Pdt. Royandi Hutasoit – yang juga Ketua Yayasan Doulos – bertanya kepada jemaat suatu denominasi gereja di sela-sela khotbahnya dalam suatu kebaktian, yang diadakan di sebuah Mal di kawasan Jakarta Barat, 2 Januari 2000 lalu. Menurut Royandi, semula ia sangat terpukul melihat sebagian bangunan milik Doulus musnah dilalap api. Bahkan, sampai meminta korban nyawa salah seorang mahasiswanya. Sariman!

“Namun, salah seorang pendeta menghibur saya dengan memberi sebuah ayat yang dikutip dari Injil Yohanes 12 : 24, Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Ingat peristiwa di Makasar, di mana umat Kristiani dianiaya, bahkan ada seorang pendeta dibunuh oleh empat orang pemuda (?) Ternyata, keempat pemuda itu kemudian menjadi preman dan dalam suatu kasus, keempatnya dikirim ke Nusakambangan untuk menjalani hukuman. Nah, di sana akhirnya mereka bertobat menjadi orang percaya dan keempat preman itu menjadi penginjil, kemudian kembali ke Makasar untuk menginjil di sana. Puji Tuhan. Saya percaya, kematian Sariman tidak sia-sia. Pasti bakal ada beberapa orang dari kelompok penyerang yang bakal bertobat dan menjadi orang percaya!” lanjut Pdt. Royandi yang selama berkotbah tak henti-hentinya menyeka hidung dan matanya dengan saputangan.

Mengapa sampai terjadi penganiayaan terhadap orang percaya? “Dalam Khotbah di Bukit (Matius 5:1–12), Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.” Tak usah kecewa dengan apa yang kita alami. Karena kita memberitakan kebenaran, kita harus siap menerima penganiayaan. Oleh karena itu, kita merasa berbahagia” kata Royandi di awal khotbahnya.

Penganiayaan terhadap orang percaya bukan hal yang baru. Sejak dulu hal tersebut sudah terjadi, seperti yang Firman Tuhan katakan, bahwa setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menerima aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jabat, mereka menyesatkan dan disesatkan ( 2 Tim 3 : 10 ).

Sekalipun demikian, lanjut Royandi, peristiwa yang dialami oleh Yayasan Doulos merupakan kesempatan untuk bersaksi. Lalu, ia mengutip Firman Tuhan yang diambil dari Lukas 21:13 untuk menguatkan apa yang baru saja dikotbahkannya. “Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.”

Jadi, menurut Royandi, penganiayaan boleh saja datang namun kita sebagai orang percaya harus tetap bergembira, karena Tuhan mengizinkannya.

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kami seketika harus berduka cita oleh berbagai-bagai pencobaan” kata Royandi membacakan Firman Tuhan yang diambil dari 1 Petrus1 : 6.

Karena itu, kita tak usah heran jika Tuhan membiarkan Sariman, mahasiswa STT Doulos, mati akibat penganiayaan.

“Kematian Sariman tidak sia-sia. Sebab sekalipun ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah dari pelayanannya selama ini. Kami yakin makin banyak orang yang akan bertobat” kata Royandi Hutasoit mengakhiri khotbahnya. (Tar)

MUKJIZAT DOULOS
Sabetan Samurai (1)

DIAWALI dengan ledakan bom Molotov disertai teriakan yang mengerikan, gedung milik Yayasan Doulos diserbu ratusan orang bersenjatakan pedang, samurai, clurit, dan potongan kayu. Saleh, karyawan Yayasan Doulos, termasuk salah seorang dari sekian ratus orang mahasiswa yang terkejut dan segera lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Sementara itu, bom Molotov berterbangan dan meledak di sana sini. Suasana tambah mencekam ketika api mulai menjilat membakar ruangan-ruangan.

Karena sudah terkepung rapat, Saleh tak berhasil melarikan diri. Ia tertangkap.

“Bunuh! Bakar! Bakar!” teriak para perusuh.

Tubuh Saleh segera diangkat beramai-ramai hendak dilempar ke dalam api untuk dibakar hidup-hidup.. Tetapi, Saleh tak menyerah begitu saja. Ia berontak dan menendang sejadi-jadinya. Tetapi, karena yang memegangi kaki dan tangannya banyak, Saleh tak berhasil melepaskan diri.

“Lempar, bakar!” Kembali terdengar teriakan.

Saleh makin gigih berjuang melepaskan diri. Suatu kekuatan luar biasa muncul. Sekali lagi Saleh berontak dan ia terlepas jatuh ke tanah. Para perusuh tak berhenti sampai di situ. Tendangan, injakan, pukulan kayu mengenai tubuh Saleh dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Tak ada yang bebas dari pukulan. Bukan itu saja. Hantaman linggis serasa menembus punggungnya. Puaskah para perusuh itu? Belum! Sebuah sabetan samurai mengenai lehernya. Saleh mengira ajalnya sudah sampai. Tiba-tiba ada kekuatan dalam dirinya yang membuat ia bisa bangkit dan lari meninggalkan para penganiayanya.

Melihat Saleh bangkit dan lari, para penganiaya mengejar. Entah bagaimana, Saleh berhasil melompati tembok pembatas yang tinggi- yang dalam keadaan biasa tak mungkin dapat dilompati. Malah, ia pun dengan mudah tiba di RS UKI, Cawang, Jakarta Timur. Ketika diberikan pertolongan, mukjizat terjadi. Sabetan samurai pada lehernya ternyata hanya menimbulkan goresan atau lecet kecil. Selain bekas luka hantaman linggis di punggungnya yang menimbulkan luka sedalam 5 cm, tak ada luka-luka berarti. Luar biasa. Roh Kudus melindunginya sehingga ia terhindar dari perbuatan kejam para perusuh.. Puji Tuhan!

Sabetan Samurai ( 2 )

KETIKA Pdt.Zacharias, pimpinan asrama putri STT Doulos, mendengar teriakan minta tolong, ia segera keluar. Sekitar 100 mahasiswi STT Doulos meminta perlindungan saat diserang oleh para perusuh. Sebagai pimpinan yang bertanggung jawab, Pdt. Zacharias ke luar menghadapi para perusuh. Ia mohon agar ke 100 mahasiswi itu dibebaskan dan ia siap dijadikan pengganti.

Tetapi, tawarannya disambut dengan bacokan golok dan sabetan samurai, pada leher dan kepalanya. Darah segar mengalir dari luka-lukanya. Bahkan, punggungnya “berkenalan” dengan besi yang dihantamkan para penyerbu. Pada saat para mahasiswi hampir seluruhnya dikumpulkan di sebuah lapangan., mereka pasrah menerima apa pun yang akan menimpa mereka. Satu hal yang tak lupa mereka lakukan adalah tetap berdoa mengharap pertolongan Tuhan.

Entah bagaimana, salah seorang penyerang memberi jalan keluar sehingga mereka yang terkurung dapat meloloskan diri dan selamat! Semua percaya bahwa kuasa Tuhan dinyatakan melalui orang itu. Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Pdt. Zacharias segera dilarikan ke rumah sakit UKI untuk mendapat pertolongan. Saat lukanya dibersihkan, terjadilah mukjizat Tuhan ke sekian kalinya. Luka menganga pada lehernya secara ajaib merapat kembali. Dengan perawatan sekedarnya, Pdt. Zakharia berangsur sembuh. Puji Tuhan. ( Kiriman: Presno S. )

Sariman mati sahid

Sariman mati sahid

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: