Keesaan Gereja, Mungkinkah?

Tinggalkan komentar

Keesaan Gereja, Mungkinkah?
Mungkinkah gereja di Indonesia bisa bersatu? Tentu sebelum menjawab akan muncul pertanyaan, bersatu seperti apa? Tidak gampang menjadi satu. Jika melihat potret dari gereja di Indonesia, kelihatannya, aliran-aliran gereja terus bertambah, dan cenderung susah untuk menjadi satu. Pertambahan aliran-aliran itu juga menambah banyaknya pergumulan gereja. Apakah penambahan aliran itu yang diinginkan Tuhan.
Radius Prawiro penah mengatakan, bahwa keesaan itu hanya bukan tujuan, melainkan juga titik berangkat menuju “keesaan sejati.” Esa adalah sifat Tuhan, satu adanya. Keesaan gereja berarti sifat yang satu, menyatu dengan sifat yang lain dan menjadi satu.
Apa artinya menjadi satu? Sudah barang tentu bahwa menyatukan lembaga-lembaga gereja itu, sesuatu yang muskil. Tetapi faktanya ada aliran yang Gereja pernah menyatu, perlu diingat Gereja Kristen Indonesia sekarang pecahaan beberapa aliran, kemudian menjadi satu. Tahun 1994, pada Sidang Raya Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) di Irian Jaya enambelas tahun lalu itu menyabut keputusan Gereja Kristen Indonesia meleburkan diri menjadi satu sinode. Kalau disebut untuk menuju keesaan, itu berarti selama ini terpecah-pecah.
Gereja seharusnya terus memikirkan keesaan, sebab dunia sekarang menjadi satu, dunia menjadi “kampung bersama” warga umat manusia. Sebab dunia sudah menjadi persoalan bersama. Kita telah memasuki zaman yang berbeda sebelumnya, zaman yang seluruhnya sudah terang-benderang, tentu saja juga dunia membangun sejarah bersama, “sejarah universal.” Inilah gerakan yang disebut gerakan oukumenis.

Gerakan Oikumene
Oukumen didengungkan oleh gereja untuk kesatuan tubuh Kristus. Oikumene yang artinya seluruh penghuni bumi. Gerakan ini untuk mempersatukan seluruh Kristen yang ada di atas dunia ini. Bahkan dalam nubuatan dikatakan bukan saja Kristen tetapi di luar Kristen akan bersatu, menerobos ke semua agama dan kepercayaan yang ada di bumi ini. Artinya, Oikumene menggelontorkan semangat kembali kepada satu gereja dunia seperti pada permulaan.
Epistemologi ekumenisme kadang-kadang disebut oikoumenisme, oikumenisme berasal dari bahasa Yunani dari kata “oikos” yang berarti rumah dan “menein” artinya tinggal. Oikoumene bisa berarti “satu atap” “satu tempat tinggal.” Pengertiannya yang paling luas, ekumenisme berarti inisiatif keagamaan menuju keesaan di seluruh dunia.
Kata ini digunakan terutama sekali dalam kaitan dengan “dan oleh” agama Kristen untuk merujuk pada gerakan menuju persatuan atau kesatuan denominasi Kristen yang terpecah-pecah karena doktrin, sejarah dan praktik.

Satu Gedung
Sebagai sesuatu bahan diskusi, apakah lebih baik satu gedung dari pada gereja berjejer untuk menyingkapi perbedaan aliran-aliran. Salah satu contoh, di daerah Cilandak, hal yang boleh menjadi teladan, bahwa ada gereja untuk gereja satu gedung dipergunakan untuk tiga aliran gereja. Diantaranya, GPIB Markus, Katolik, GPdI. Ini menjadi benih kesatuan gereja.
Adalah David, seorang pekerja dari gereja GPIB Markus, bercerita soal gedung gereja yang sudah berdiri 42 tahun lamanya itu. “Satu gedung Gereja dipakai oleh tiga aliran. Tidak ada masalah terhadap hal ini. Yang penting hanyalah koordinasi antara sesama pengurus. Koordinasi pada pengelola gedung,” tambahnya.
Agar tidak terjadi benturan saat mengadakan kebaktian, atau misa, maka perlu dilakukan komunikasi. Pengurus gedung itulah penyelenggara, pengurus gereja koordinasi. Sementara itu, untuk menjadikan jemaat saling mengenal ketiga aliran gereja tersebut minimal dua kali setiap tahunnya menggelar kebatian bersama. Dan yang dilayani masing-masing pelayan, pendeta-pastor. Di sini terasa persaudaran di antara sesama jemaat.

Gereja Berderet
Lain lubuk lain ikannya. Kalau di Cilandak bisa satu gedung dimamfaatkan tiga aliran, di Bekasi daerah Harapan Baru Regency Selatan, Bekasi Barat malah Gereja berjejer sampai enam gereja. Melihat ini, kelihatannya, kesatuan gereja masih sebuah keniscahayaan di Indonesia.
Keenam gereja yang berjejer tersebut adalah: GPIB Jemaat Harapan Baru, Gereja Pentakosta Serikat di Indonesia (GPSDI), Gereja Betel Indonesia, Gereja Kristus Rahmani Indonesia jemaat KDE Tytyan Kencana, Gereja Advent, dan Gereja HKBP resort Harapan Baru II Sola Gratia. Dari keenam Gereja ini, hanya dua Gereja yang memiliki jemaat sekitar 300 jiwa, HKBP dan GPIB.
Gedung gereja ini dibangun tahun 1996, dengan model yang sama dan luas ruangan yang sama pula. Seluruh Gereja tersebut punya sinode sendiri. Menurut beberapa jemaat menyebutkan “keenam Gereja tersebut sebagai tempat percontohan.” Lahannya diberikan pemerintah daerah (Pemda) Bekasi untuk peruntukkan tempat rumah ibadah.
Bagaimana dengan kebaktian? Itulah uniknya. Kalau Gereja Advent tidak terlalu masalah karena kebaktian Hari Sabtu. Yang masalah adalah lima Gereja lagi yang selalu sahut-sahutan saat kebaktian. Ada Gereja yang biasanya memakai alat musik band, ada Gereja yang hanya bertepuk tangan, ada pula hanya dengan kebaktian menyanyikan kidung jemaat. Melihat kebaktian tersebut kita mungkin salut. Tetapi, apakah kita sadari dengan gereja berjejer terus menandakan Gereja tidak satu adanya. Adakah rumah ibadah yang lain seperti itu?
Bagaimana mengelola kebaktian bersama dengan keenam gereja? “Terus terang kita belum pernah kebaktian bersama. Memang kita rindu, tetapi kelihatannya sulit. Tetapi, dengan adanya gedung Gereja berjejer begini adalah solusi untuk mensiasati pengurusan izin IMB yang berbelit-belit,” ujar Gaspersz, salah satu penatua GPIB, ini.
Lalu, bagaimana membuat agar kebaktian tidak merasa mengusik pada tetangga gereja? “Kita selalu atur waktu, sebisa mungkin, agar tidak ada suara bising. Sejauh ini kita terus selalu menjaga kenyamanan dengan tetangga gereja sebelah kita,” ujar pendeta Asi Hutabarat, gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia.

Satu Roh
Kapan Gereja bisa menjadi satu? Paulus sangat konsen dengan keesaan masalah kasatuan umat Tuhan. Saat dia mendengar ada perpecahan di antara orang-orang Korintus, Paulus menulis Gereja digambarkan sebagai satu tubuh dengan banyak anggota yang berbeda di antara mereka sendiri, tetapi satu dengan Kristus kepala Gereja.
“Sebab dalam satu roh kita semua dibaptis menjadi satu tubuh, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, apakah terikat atau bebas.” Kesatuaan seperti apa yang diharapkan Paulus? Kesatuan Gereja dalam segala bentuknya. Tentu dasarnya satu doktrin, didasarkan pada Tritunggal sebagai salah satu sifat mendasar Tuhan. Secara khusus, secara historis diungkapkan secara lebih formal dan meyakinkan dalam definisi dari Konsili Ekumenis, yang kemudian merumuskan lambang iman sebagai “Pengakuan Iman.”
Ini adalah tujuan dari Allah yang mengambil rupa menjadi manusia, datang untuk umat manusia, sehingga kita tidak hanya menjadi satu tubuh dengan Kristus, tetapi juga satu Roh dengan Allah Tritunggal. Satu tubuh, dan satu Roh, bahkan sebagai kamu dipanggil dalam satu harapan panggilan Anda, satu Tuhan, satu iman.

Persatuan
Gereja adalah bukan gedungnya, tetapi tubuh Kristus yang dipanggil keluar pada terangnya yang baik. Sebagai gambaran, gedung gereja hanyalah tempat untuk menyembah Tuhan dan bersekutu dengan orang lain.
Gedung gereja harusnya bukan hanya bermamfaat untuk satu aliran saja, tetapi banyak aliran yanga membutuhkan hal itu. Harusnya kita, umat Kristen bisa melihat dengan jenih, bening apa yang terjadi dalam setiap pendirian gereja. Sesuatu hal yang menjadi pelajaran bersama adalah: bagaimana membangun hidup bersama sesama umat Krsiten.
Jika seperti yang kebaktian bergilir yang telah ditunjukkan di Gereja Bathera Kasih ini, seharunya menjadi pendorong para pimpinan gereja menjadari hal ini. Betapa penting berbagai baik suka dan duka. Intinya umat Kristen adalah hal yang menjadi hal yang harus ditawarkan adalah solusi, dalam mensiasati apa yang terjadi dalam menyelenggarakan kebaktian bergilir. Barangkalai ini bukan solusi tetapi sebagai salah satu halal yang harus juga dipikirkan.
Tetapi ada juga pertanyaan, barang kali ada berbagai hal yang harus diperhatikan; barangkali mungkin juga karena kebetulan gereja tersebut di komplek pusat Marinir, KKO Cilandak. Maka, satu gedung untuk tiga sekte, atau aliran gereja menjadi menarik untuk diperbincangkan.
Sebagaimana kerinduan Tuhan Yesus, dalam daoanya “bahwa mereka menjadi satu andanya.” Satu bukan labelnya yang satu. Tetapi satu hati dalam pemikiran dan perasaan. Maka jika itu terjadi, laiknya jemaat Kristen saling memperhatikan.
Perwujudan keesaan gereja di Indonesia harus menjadi berkat bagi bangsa, sehingga kehadiran gereja-gereja di Indonesia dapat dirasakan dan mempunyai makna tidak saja bagi gereja dan umat Kristen di Indonesia tetapi juga bagi seluruh masyarakat, bangsa dan negara.
Walaupun ada banyak kendala dalam upaya mewujudkan keesaan karena bagitu beragamnya denominasi, tetapi harus diakui telah mencapai banyak kemajuan di bidang keesaan sejak hal itu digagas sejak tahun 1950 lalu.

Kudus dan Am
Pengakuan iman tentang Gereja didahului oleh pengakuan terhadap Roh Kudus. Ini adalah peletakan yang sudah “amat tepat” bahwa Roh Kuduslah yang mengimplementasi karya penyelamatan Yesus Kristus sehingga orang boleh mengalami pembaruan hidup. Apa saja sifat hakiki Gereja menurut pengakuan iman historis yang kita warisi?
Menurut Pengakuan Iman Nicea, ada empat sifat hakiki Gereja yaitu am, kudus, esa dan rasuli. Pertama, Gereja bersifat am atau universal. Dalam Perjanjian Lama rencana keselamatan Allah masih mewujud dalam lingkup yang agak terbatas yaitu di sekitar umar Israel. Namun dengan terpenuhinya Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, terbentuk pula sifat baru dari umat tebusan Allah yaitu lintas suku, bahasa, bangsa menjadi Gereja internasional yaitu Gereja yang Am.
Lebih dari itu, Roh pun tidak lagi terbatas hanya dicurahkan ke segelintir pemimpin tetapi kepada semua pengikut Kristus. Maka Gereja yang adalah Bait Roh Allah menjadi bersifat universal itu semua dipersatukan di dalam karya penyelamatan Yesus Kristus.
Kedua, Gereja adalah orang-orang yang telah diluputkan oleh Kristus dari kecemaran dunia dan dari dosa pribadi. Kristus memungkinkan apa yang tidak mungkin manusia upayakan sendiri dengan cara apa pun yaitu pembaruan hati atau kelahiran baru atau dilahirkan dari Allah.
Pembaruan hati adalah karya Allah dalam keberadaan subjektif kehidupan orang beriman mengiringi karya anugerah Allah yang secara objektif memilih dan memisahkan kita dari kerajaan gelap masuk ke dalam Kerajaan terang-Nya.
Dalam Yohanes 13 Tuhan Yesus melukiskan hal ini dengan “mandi”. Melalui mandi yaitu tindakan pembasuhan total Kristus atas hidup kita, kita menjadi bersih dan berbagian dalam Gereja-Nya.
Dalam pasal sama Yesus mengajarkan para murid-Nya agar mengkondisikan terus proses pengudusan ini yaitu dengan tindakan saling mengasihi sampai berwujud ke saling mencuci kaki, yaitu saling melayani demi menumbuhkan kekudusan bersama. Saling menegur, saling mendoakan, saling mengasihi dan disiplin Gereja adalah berbagai tindakan agar kekudusan Gereja terpelihara.
Keesaan Gereja adalah target yang Tuhan Yesus ingin lihat terwujud dalam Gereja sehingga Ia mendoakannya. Tuhan Yesus secara khusus mendoakan keesaan Gereja ini dalam doa imamat-Nya karena kepentingannya terkait dengan dua hal.
Keesaan Gereja menjadi cerminan dari keajaiban sifat tritunggal Allah. Sifat tritunggal Allah memang merupakan misteri yang tak mungkin terpecahkan dengan penjelasan yang mengandalkan analisis logis numerik. Namun manifestasi kebenaran sifat Tritunggal itu kita alami dalam kehadiran Yesus Kristus yang di dalam-Nya kemuliaan, rencana, misi Allah menyatu penuh dan mewujud.
Keesaan sifat, hasrat dan misi di dalam relasi ketiga Pribadi Tritunggal itulah yang melahirkan Gereja. Maka logislah bila gereja memanifestasikan keesaan yang serasi dengan keesaan kasih kekal ilahi dalam Allah Tritunggal. Kedua, Tuhan Yesus menempatkan keesaan Gereja bukan saja sebagai akibat dari karya Tritunggal tetapi juga sebagai sebab yang akan membuat missi Gereja menyaksikan Yesus Kristus akan berhasil.
Apabila Gereja baik lokal, denominasional, maupun regional atau global gagal memanifestasikan keesaan dalam kebenaran dan kasih, maka kekuatan missi Gereja menyaksikan Kristus akan tergerogoti. Sebab, dengan konsekuen memelihara keesaan dalam berbagai praktik yang didasari oleh kebenaran, saling peduli, ibadah yang menyatupadu, maka fakta bahwa Yesus sungguh Tuhan dan Juruselamat menjadi kasat mata dalam kehidupan bergereja.
Demikianlah Gereja tidak-boleh-tidak peduli terhadap dunia sekelilingnya, dengan menyatu memikirkan “keesaannya.” Sebagaimana dalam doa-Nya Yesus meminta agar “Gereja Satu Adanya” dipelihara dalam kebenaran sambil tetap berkontribusi aktif dalam dunia ini. Gereja harus setia secara dinamis dan kreatif dalam meneruskan kebenaran Injil yang rasuli dan am. Gereja yang bersatu terus menerus membuka diri demi kemajuannya.***Hotman J. Lumban Gaol

Kebebasan Beragama (Bukan) Masalah

Tinggalkan komentar

Kebebasan Beragama (Bukan) Masalah

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol*)

“Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama. Hak itu tercakup kebebebasan untuk menganut dan menerima suatu agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan baik secara individu maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaanya dalam kegiatan ibadah, ketaatan, pengalaman, dan pengajaran.” Kalimat tadi tertuang dalam Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik pada pasal 18 ayat 1.

Soal hak kebebasan beragama juga tertuang pada UUD 45, pasal 2, mengamatkan, Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah memeluk agamanya dan kepercayaanya itu. Artinya, kebebasan beragama (beribadah) adalah hak hakiki yang dijamin undang-undang kita. Artinya beragama itu adalah kebebasan.

Kebebasan kaitannya beragama menurut Siti Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) ini, menyebut ada empat macam kebebasan yaitu: kebebasan berekspresi, kebebasan beribadah, kebebasan untuk berkeinginan dalam hal ini adalah kepastian atau keamanan ekonomi; dan kebebasan dari rasa takut (ancaman, teror).
Sementara Seyyed Hussein Nasr, seorang sufi dan ilmuan Iran, membaginya menjadi dua macam kebebasan. Pertama, kebebasan menjadi (freedom to be) adalah kebebasan personal, tetapi bukan kebebasan politis. Kebebasan absolut yang terdapat di dalam kehidupan spiritual, juga disebutnya kebebasan moral. Intinya, kebebasan ranah internal di mana kebebasan berpikir, berkesadaran dan beragama dipandang mutlak. Kedua, yaitu kebebasan bertindak (freedom to act) tentu dalam batas-batas terukur. Bebas bertindak asal tindak menggangu kepentingan orang lain.

Kebebasan beragama adalah hak mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Itu artinya, hak asasi manusia sebagai hak yang tidak bisa ditangguhkan oleh Negara, apalagi dengan ormas, meskipun dalam keadaan darurat (perang). Dalam hal ini, negara dengan berbagai peraturannya tidak juga bisa mengatur kebebasan beragama, apalagi beribadah. Negara hanya bisa, dalam menjabarkan UUD 45, bertanggung-jawab melindungi warganya dalam menjalankan ibadahnya.

Itulah yang harus kita gugat, akhir-akhir ini “kebebasan beragama” seperti dikungkung. Masalah yang terjadi sekarang terlihat adalah mempertontonkan “yang kuat” dan “yang lemah.” Golongan yang menganggap dirinya kuat adalah mereka yang merasa mayoritas, sedangkan golongan yang merasa golongan tertindas merasa minoritas.

Tragedi Ciketing
Tragedi Ciketing bukanlah muncul dengan tiba-tiba. Penusukan terhadap sintua Hasian Lumbantoruan dan penganiayaan terhadap pendeta Luspida boru Simanjuntak (Minggu, 12 September 2010) hal yang memilukan. Kekerasan itu dilakukan kelompok vigilante (kelompok yang melakukan kekerasan dengan mengambil alih fungsi penegakan hukum). Tindakan para vigilante ini orang-orang yang memaksakan kehendak.

Sebagaimana awalnya, jemaat HKBP Pondok Timur Indah yang hampir 20 tahun beribadah di Jalan Puyuh Raya 14. Semenjak Januari lalu mulai diganggu massa. Atas tekanan massa pada pemerintah Kota Bekasi, termasuk RT, RW dan Lurah menekan pemeritah Kota Bekasi. Sudah tentu, dalam hal ini Mocthar Muhamad sebagai pimpinan daerah itu takut akan tekanan gerakan yang menamakannya masyarakat Ciketing.

Padahal, seharusnya pemerintah tidak boleh kalah oleh tekanan “massa” tersebut, apalagi pemerintah memiliki dasar hukum memberikan keputusan. Demikian pula lembaga agama sebagai pengayom antar umat beragama di Indonesia. Lembaga agama sebagai penanggung-jawab masalah keagamaan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sesungguhnya hal yang paling penting juga ketegasan pemerintah, menegakkan semangat kemajemukan, yang berarti keberanian dalam melawan gerakan-gerakan yang memecah keamanan bangsa.

Hidup berdampingan dengan damai yang telah diletakkan Gus Dur sebagai pondasi bangunan pluralisme, kini kembali dirobohkan oleh segentir golongan yang tidak mau ada kedamaian. Kekerasan yang dilakukan oleh kaum ekstrimis, seperti di Ciketing beberapa waktu lalu.

Hidup berdampingan dengan semangat kemajemukan hendaklah harus menjadi sasaran bagi seluruh umat. Hidup berdampingan masih merupakan sesuatu hal yang amat mahal di masyarakat kita. Di beberapa wilayah “hidup berdampingan” seperti di Tanah Batak terwujud baik. Tidak ada cerita masyarakat melarang atau bahkan merusak tempat ibadah orang lain.

Jasmerah

Di tengah-tengah perjuangan bangsa ini makin beradab; pertarungan “kepentingan” dan intrik politik segelintir golongan memperkeruh suasana, terjadi aib. Tragedi Ciketing tidak akan pernah ada jika semua belajar dari sejarah berdirinya bangsa ini. Penyelesaian “Tragedi Ciketing” adalah sebagai ujian. Ujian bagi saktinya “Pancasila” yang menjadi dasar negara dalam menjamin kebebasan beragama. Ujian, berarti seluruh elemen bangsa diuji; pemerintah diuji, warga negara, khususnya masyarakat Bekasi, diuji. Pemerintah yang tidak mau menang dalam ujian melawan para “vigilante” akan menjadi “pemimpin rancun.” Pun, anak bangsa (warga Bekasi) kalau kalah dalam ujian itu akan juga menyemburkan “rancun” yang akan memecah keutuhan bangsa.

Ujian itu, juga menjadi momentum untuk saling memperbaiki diri. Yang merasa mayoritas melindungi yang minoritas, demikian sebaliknya yang minoritas menghargai mayoritas. Itu yang dikatakan Alvin Toffler sebagai salah satu tanda-tanda Gelombang Ketiga mengubah hakekat identitas. “…masyarakat yang lebih hetoregen dan lebih ‘terdeferensiasi,’ maka seharusnya kita mengharapkan dan menyaksikan suatu keanekaragaman identifikasi dan pengelompokan yang jauh lebih luas. Dan ini sebenarnya yang sedang terjadi.“

Jika hal mencari identitas bersama, maka “hidup rukun” akan tercipta. Sendirinya NKRI tetap utuh; tentu hal ini bisa tercapai jika ada saling hormati-menghormati, menghargai perbedaan, kesejajaran sebagai anak bangsa yang saling memberi manfaat, dan akhirnya tercipta kedamaian. Hal ini penting agar bangsa ini tidak porak-poranda.

Keruntuhan negara adidaya, seperti Uni Soviet, awalnya dari perpecahan oleh SARA. Maka, kelompok rasial yang mengembar-gemborkan SARA harus ditindak; bangsa ini diperhadapkan dengan bahaya perpecahan, jika hal ini dibiarkan terus, akan menjadi peluang bagi pihak-pihak yang tidak menginginkan keutuhan bangsa ini.

Dari penjelasan tadi menjawab, bahwa kebebasan beragama di Indonesia masih “bermasalah.” Kebebasan beragama sesungguhnya tidak boleh menjadi masalah. Sejak Negara ini dibangun founder father atas dasar untuk semua kepentingan, golongan, suku, agama. Semangat kebhinekaan menjadi perekat, dan harus kembali digelorakan, agar bangsa ini tidak terpelosok ke dalam jurang kehancuran.

Soekarno mengatakan jangan sekali-kali melupakan sejarah (jasmerah). Sejarah telah menyingkapkan, bahwa makam-makam pahlawan kita tidak hanya dihuni umat Muslim yang telah memberikan sumbangsi untuk bangsa ini berdaulat, merdeka; tetapi makam-makam pahlawan itu dihuni semua golongan, suku, agama. Paling tidak, apa yang dikatakan Goethe, manusia yang bijak adalah mereka yang belajar dari sejarah.
*)Penulis adalah wartawan

Evolusi

Tinggalkan komentar

Isme Sesat, Asal Usul Manusia

*) Oleh; Hotman Jonathan Lumbangaol

Di abad ke-18 Darwinisme berepilog, manusia berasal dari kera. Gereja (baca; orang Kristen) dibuatnya kalang-kabut. Ajaran evolusi merasuk tulang sumsum ke-Kristen-an di abad ke-18. Sebab seperempat penduduk bumi menerima Darwinisme. Lalu, menjadi pertanyaan dari mana asal manusia sebenarnya? Pertanyaan ini selalu menggangu manusia dari masa ke masa. Teori evolusi masih diajari di sekolah—bahwa manusia berasal dari kera.

Yang mengusik sebenarnya bagaimana manusia dihina berasal dari kera. Bisakah kera memiliki daya keagungan rohani yang menghiasi dirinya, bisa berkreasi, berimajinasi dan mencipta. Tapi apakah cukup berdasar jika hanya hal itu bisa disebut manusia berasal dari kera.

Sudah sejak dulu manusia mencari asal-usulnya. Dari zaman primitif muncullah paham animisme, dinamisme, dan isme-isme yang lain, tak lain karena hasrat ingin mencari asal-usulnya. Pencariannya persis seorang musafir yang tidak mengerti peta perjalanan—berjalan terus lalu tersesat—sampai tua ia belum mencapai tujuan.

Perjalanan pecarian itu dijawab Charles Darwin (1809-1950) ahli zoology. Dan berkesimpulan dengan teori evolusi bahwa; kehidupan dimulai dari bakteri, lalu bermetamorfosa ke binatang–lalu kemudian jadi primata atau monyet. Berlahan-lahan berproses menjadi manusia. Menurutnya lagi bentuk pertama kehidupan adalah makhluk yang berubah-ubah. Dimulai mutasi gen, kemudian makhluk berubah sedikit-demi sedikit dari asal bakteri.

Dampak evolusi mempengaruhi banyak aspek, agama, filsafat, teknologi, sains. Meskipun, teori evolusi tanpa pondasi menyimpulkan asal usul manusia dan akhirnya ngambang menjadi hanya asumsi. Teori evolusi pada awalnya mengoncang umat manusia, seakan-akan memutus kebuntuan tentang asal-usul manusia. Memang, teori evolusi menjadi dasar membuka jalan terhadap kemajuan teknologi. Contohnya, penemuan bayi tabung. Sekarang dengan bayi tabung manusia bisa menciptakan manusia. Ini adalah memang pantastis.

Istilah evolusi diartikan sebagai perkembangan berangsur-angsur. Dari yang buruk menjadi cantik. Dari zat sederhana menuju zat yang lebih sempurna. Dari binatang yang jelek ke binatang yang cantik. Dan tumbuh-tumbuhan menjadi binatang, dari binatang ke manusia. Kemudian, dari pengalaman-penelitiannya menyimpulkan, manusia berasa dari monyet. Didasari pandangan—semua jenis binatang berasal dari satu sel purba. Teori itu muncul–ketika Darwin melakukan penelitian terhadap seekor tikus, perut tikus tersebut diurai dan runut dipelajari. Sebagai ahli zoologi memang itu lumrah dilakukan.

Kemudian ia membedah katak–katak tersebut dipotong lalu dipisahkan dari dagingnya. Kemudian, tak berapa lama daging dalam katak yang masih hidup dan inilah membuatnya kagum untuk meneruskan pertualangan tersebut. Darwin menulis dari hasil riset. Dari pola perkembangan tikus yang berubah-ubah. Imajinasi yang liar, menyimpulkan bahwa manusia sama dengan kera.

Inilah kekuatan pikiran kalau tidak dibalut dengan iman yang akhirnya imajinasi tak terkontrol membawa pada penyesatan. Teorinya mirip dari pengakuan penemuan aliran baru, seolah-olah evolusi sudah final 100%.

Lalu, tahun 1871 Darwin menerbitkan buku menghebohkan berjudul “The Descent of Man” (Asal Usul Manusia). Kemudian tidak berapa lama muncul “The Origin of Species” dikeluarkan mengulas terjadinya jenis-jenis. Buku ini mengukuhkan kesimpulannya tentang asal manusia.

Marxisme

Aliran Marxisme yang dikembangkan dari paham Karl Marx bahwa menurut pemikiran Marxisme asal-usul kejadian (arche) yang sudah menampakkan pengertian materi dilihat daripada Thales (640-550 S.M) bahwa segala sesuatu adalah air. Menurut Aliran ini asal usul manusia berawal dari pada air dan berakhir pada air pula. Anaximines (588-542 S.M) mengatakan bahwa asal mula penjelmaan adalah udara, artinya udara menghasilkan uap dan menjadi air.

Lalu kemudian, pemikiran itu ditafsirkan pada kenyataan bahwa udara merupakan napas dan dasar kehidupan jiwa. Pemahaman ini didasari oleh udara adalah napas; roh dunia yang meliputi kosmos, udara adalah dasar kehidupan. Pemikiran ini berkembang sebagai pandangan monisme. Sebab mereka menganut adanya kehidupan pada alam kebendaan (materialisme) sehingga disebut hylezois.

Pandangan Alkitab

Lalu bagaimana Alkitab menangkal isme-isme tersebut. Alkitab menyebut manusia berasal debu tanah. Tuhan membentuk Adam dari debu tanah dan Hawa diambil dari tulang rusuk laki-laki manusia pertama (Adam). Paulus menganggap asal-usul manusia tidak perlu dipersoalkan. Sebab hanya Tuhan-lah pencipta segala yang ada. Allah menciptakan yang tidak ada menjadi ada.

Sedangkan manusia mampu membuat yang ada menjadi lebih berguna bagi dia. Tuhan menciptakan manusia beserta alam ini tidak masuk wilayah bukti logika manusia. Artinya, bisa dibuktikan logika manusia baru itu disebut benar. Kemampuan manusia tidak dalam wilayah bisa mengerti asalnya. Sebab manusia terdiri dari unsur kepanaan sedangkan Tuhan Alfa dan Omega. Jadi manusia tidak mampu membuat teori tentang kemampuan kreatorNya menciptakan manusia.

Jika penulis bisa memberikan ilustrasi misalnya; Tuhan seorang pembuat bejana dan manusia adalah bejana. Apakah bejana mampu mencari asal-muasal dari mana dia dibuat. Jawabannya tidak mungkin, mungkin hanya kalau ia beriman. Bejana tidak bisa mengerti jalan pikiran pembuat bejana. Perspektif iman Kristen menegaskan manusia tidak mungkin mampu menemukan pembuatnya jikalau pembuatnya yang datang menunjukkan diri.

Karena itu Tuhan datang menghampiri manusia—oleh sebab manusia tidak mampu datang pada Tuhan. Jelas yang berinisiatif mengambil rupa manusia adalah Tuhan—bukan manusia mencari Tuhan, tetapi Tuhan-lah yang mencari manusia. Itu sebabnya Paulus dengan tegas mengatakan, baik ketika mengajarkan kesatuan organik umat manusia. Bahwa manusia berasal dari debu tanah—tidak bisa diganggu-gugat. Absolutlah Tuhan yang menciptakan manusia.

Tuhan sang kreator tersebut—absolut membentuk Adam dari debu tanah. Lalu Allah melihat manusia itu tidak baik hidup seorang diri saja perlu ada penolong yang sepadan. Maka Tuhan menciptakan Hawa (Eva). Karena itu manusia adalah mahkluk interdipenden artinya manusia tidak bisa hidup seorang diri saja, maka perlu orang lain untuk mendampinginya. Jadi paradigma Kristen menolak teori bahwa manusia berasal dari kera.

Tuhan menciptakan manusia dengan iman. Dan iman adalah pemberian Tuhan melebihi logika yang ada dalam pikiran manusia. Iman adalah tingkatan nalar paling tertinggi manusia yang diberikan Tuhan. Dan lagi, jika manusia berasal kera berarti manusia yang meninggal akan kembali menjadi kera. Demikian juga, Marxisme mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah air, semua berawal dari pada air dan berakhir pada air. Ini mirip seperti reinkarnasi kembali wujud pertama setelah kematian. Alkitab tegas, dari tanah akan kembali ke tanah, dari air kembali ke air.

Darwinisme mempengaruhi pikiran manusia hingga saat ini demikian juga Marxisme. Darwin dan Karl Marx memang hebat sebagai orang ateis. Walaupun dulunya kakek Darwin seorang pendeta dan bapak Karl Marx hamba Tuhan. Mereka berdua barangkali belum pernah ketemu. Kesamaan atara mereka adalah berasumsi dengan kira-kira itulah yang menggangu banyak orang. Ia sendiri tidak berani tegas mengatakan bahwa penelitiannya absolut, mutlak benar. Malah Darwin tiba pada pernyataan “teori evolusi bukan untuk harus dipercayaan, boleh dipercaya boleh tidak disinilah kekeliruan orang-orang ateis. Dan Karl Marx mati dalam kemiskinan sebelum sempat sadar.

Ada satu cerita, seorang ateis yang teguh mempercayai bahwa Tuhan itu tidak ada tuhan itu hanya imajinasi kata si ateis. Lalu dalam perjalanan hujan lebat disertai banjir lalu si ateis ini langsung berkata ya Allah berulang-ulang. Jadi sebenarnya ia bukan tidak percaya ada Tuhan tetapi dia tidak mau percaya. Tetapi bukan karena dia percaya baru Tuhan itu ada.

Sekalipun dia tidak percaya Tuhan tetapi tetap saja Tuhan ada bukan karena kepercayaan manusia. Inilah hidup– kadang guncangan perlu menyadarkan kantuk. Demikianlah orang Kristen jangan terlalu lama nyaman dari ketidaknyaman di dunia ini.

*) Penulis adalah pelayan

Hello world!

1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.